HAKIKAT FILSAFAT
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Filsafat dan Teori Pendidikan
yang dibina oleh Drs. Rochani, S.Pd., M.Pd.
oleh
Asnadi Kuncoro140151601786
Ela Awik Tamara140151604230
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
Januari 2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karuniaNya berupa kesehatan dan kelancaran berpikir sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul "Hakikat Filsafat” dengan tepat waktu. Makalah ini diselesaikan untuk memenuhi tugas matakuliah Filsafat dan Teori Pendidikan.
Terselesaikanya makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada:
1.Drs. Rochani, S.Pd., M.Pd.selaku dosen pembimbing matakuliah Filsafat dan Teori Pendidikan yang telah membimbing dan memberikan pengarahan,
2.Ayah dan Ibu yang telah memberikan bantuan baik secara formil maupun materiil,
3.Teman-teman offering E4 yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam penyusunan makalah ini,
4.Semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya. Penulis menyadari bahwa isi dari makalah ini masih jauh dari kata sempurna untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan di masa yang akan datang. Akhir kata penulis menyampaikan terimakasih.
Blitar, Januari 2017
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDULi
KATA PENGANTARii
DAFTAR ISIiii
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang1
B.Rumusan Masalah1
C.Tujuan2
BAB II PEMBAHASAN
A.Pengertian dan Asal Filsafat3
B.Mempelajari Filsafat6
C.Manfaat Filsafat7
D.Kebenaran Filsafat9
E.Ilmu Filsafat14
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan19
B.Saran20
DAFTAR RUJUKAN21
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk yang memiliki banyak kebutuhan, salah satunya adalah kebutuhan akan pengetahuan. Pengetahuan merupakan hasil dari usaha manusia untuk memenuhi rasa ingin tahunya mengenai suatu hal. Karena manusia dalam hidupnya selalu dihinggapi rasa ingin tahu, maka manusia akan berusaha menemukan kepastian atau kebenaran dari apa yang ingin diketahuinya. Berdasarkan hal ini maka muncullah sebuah ilmu pengetahuan yang disebut filsafat. Filsafat merupakan suatu titik temu tentang hakikat kebenaran yang sudah ada namun ingin dikembangkan lebih mendalam tanpa adanya ujung dari kebenaran yang ada karena penyelesaian masalah dalam filsafat itu bersifat mendalam dan universal.
Filsafat akan membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang seharusnya. Filsafat sangat diperlukan bagi setiap orang untuk memahami atau memastikan segala hal yang belum diketahui atau yang sudah diketahui. Dalam dunia pendidikan filsafat sangat penting karena menentukan pemahaman dan tindakan seseorang (dalam dunia pendidikan)untuk mencapai tujuan pendidikan.
Filsafat membahas segala sesuatu yang ada, bahkan yang mungkin tidak ada, baik bersifat abstrak ataupun riil yang meliputi Tuhan, manusia dan alam semesta. Sehingga untuk paham betul semua masalah filsafat sangatlah sulit tanpa adanya pemetaan-pemetaan dan mungkin kita hanya bisa menguasai sebagian dari luasnya ruang lingkup filsafat.
B.Rumusan Masalah
1.Apa yang dimaksud dengan filsafat?
2.Bagaimana mempelajari filsafat?
3.Apa saja manfaat filsafat?
4.Bagaimana kebenaran filsafat?
5.Apa yang dimaksud ilmu filsafat?
C.Tujuan
1.Menjelaskan pengertian filsafat.
2.Menjelaskan cara mempelajari filsafat.
3.Menjelaskan manfaat filsafat.
4.Menjelaskan kebenaran filsafat.
5.Menjelaskan ilmu filsafat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian dan Asal Filsafat
1.Arti Filsafat
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani dan berarti “cinta akan hikmat” atau “cinta akan pengetahuan” seorang “filsuf” adalah seorang “pecinta”, “pencari” (“philos”) hikmat atau pengetahuan (“shopia”). Kata “philosophos” diciptakan untuk menekankan sesuatu pemikiran Yunani seperti Phytagoras (582-496 SM) dan Plato (428-328 SM) yang mengkritik para “sofis” (sophists) yang berpendapat bahwa mereka tahu jawaban untuk semua pertanyaan. Kata Phytagoras “hanya Tuhan yang mempunyai hikmah yang sungguh-sungguh”. Manusia harus puas dengan tugasnya di dunia ini yaitu “mencari hikmat”, “mencintai pengetahuan”.
Dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan, antara satu ahli filsafat dan ahli filsafat yang lainnya selalu berbeda dan hampir sama. Pengertian filsafat dapat dipilahkan ke dalam dua garis besar, yaitu secara etimologi dan secara terminologi.
a.Pengertian Filsafat secara Etimologi
Secara etimologi, kata “filsafat” dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia. Kata philosophia terdiri dari kata philein yang berarti cinta (love) dan sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Orang yang mempelajari serta mendalami filsafat disebut “filsuf”. Selain dalam bahasa Indonesia, philosophia juga diserap ke dalam berbagai bahasa sehingga akhirnya melahirkan beragam kata, diantaranya: falsafah dalam bahasa Arab, filosofi dalam bahasa Belanda, dan philosophy dalam bahasa Inggris.
b.Pengertian Filsafat secara Terminologi
Pengertian terminologis merupakan uraian yang menjelaskan berdasarkan batasan-batasan definisi yang disusun oleh sejumlah filsuf dan ahli filsafat. Pengertian terminologi tentang filsafat adalah sebagai berikut.
a.Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik dan lengkap tentang seluruh realitas.
b.Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar secara nyata.
c.Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuannya: sumbernya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.
d.Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernytaan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang ilmu pengetahuan.
e.Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu kita melihat apa yang kita katakan dan untuk mengatakan apa yang kita lihat.
Secara terminologi, para ahli filsafat memberikan pendapatnya masing-masing mengenai pengertian filsafat sebagai berikut:
1)Plato
Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaraan yang asli.
2)Aristoteles
Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaraan yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (fisafat keindahan).
3)Al Farabi
Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
4)Rene Descartes
Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi penyelidikan.
5)Immnanuel Kant
Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan, yang didalamnya tercakup masalah epistemologi (filsafat pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui.
6)Langeveld
Filsafat adalah berfikir tentang masalah-masalah yang akhir dan yang menentukan, yaitu masalah-masalah yang mengenai makna keadaan, Tuhan, keabadian dan kebesasan.
7)Hasbullah Bakry
Ilmu fisafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakekatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
8)Prof. Dr. N. Driyarkara S.J
Filsafat adalah perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebab ‘ada dan berbuat’, perenungan tentang kenyataan (reality) yang sedalam-dalamnya, sampai ke ‘mengapa’ yang penghabisan.
9)Notonagoro
Filsafat itu menelaah hal-hal yang menjadi objeknya dari sudut intinya yang mutlak dan yang terdalam, yang tetap dan yang tidak berubah, yang disebut hakikat.
10)IR. Poedjawijatna
Filsafat ialah ilmu yang mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan menggunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat bukan mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena tetapi yang dicari adalah hakikat dari suatu fenomena.
Filsafat adalah suatu pengetahuan yang bersifat eksistensial artinya sangat erat hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan, dapat dikatakan filsafatlah yang menjadi motor penggerak kehidupan kita sehari-hari baik sebagai manusia pribadi maupun sebagai manusia kolektif dalam suatu masyarakat atau bangsa.
2.Asal Filsafat
Terdapat tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat antara lain didorong oleh rasa keheranan, kesangsian, dan kesadaran akan keterbatasan.
Pertama, keheranan. Sejumlah filsuf menunjukkan rasa heran misalnya: (a) Plato yang menyatakan “maka kita melakukan pengamatan pada bintang-bintang, matahari dan langit”. (b) Immanuel Kant(1742-1804) yang pada batu nisan di kuburannya tertulis “coelum stellatum supra me lex moralis inkra me”, kedua gejala yang paling mengherankan menurut Kant adalah “ Langit berbintang-bintang di atasnya” dan “Hukum moral dan hatinya”.
Kedua, kesangsian. Filsuf-filsuf lain seperti Augustinus (354-430) dan Descartes (1596-1650) menunjukkan kesangsian sebagai sumber utama pemikiran. Sikap ini disebut sikap Skeptis (penyelidikan) berguna untuk suatu titik pangkal yang berfungsi sebagai dasar untuk semua ilmu pengetahuan lebih lanjut.
Ketiga, kesadaran dan keterbatasan. Filsuf-filsuf lain lagi mengatakan bahwa manusia mulai berfilsafat kalau ia menyadari betapa kecil dan lemah ia, dibandingkan alam semesta sekelilingnya.
Ketiga jenis abstraksi tersebut sebagaimana dibedakan oleh Aristoteles masih tetap berguna untuk menerangkan hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan.
Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan. Sebelum, dalam pengertian bahwa semua ilmu khusus telah mulai sebagai bagian dari filsafat yang kemudian menjadi dewasa, seperti masih kelihatan pada Aristoteles. Sedangkan filsafat datang sesudahnya, dalam pengertian bahwa semua ilmu menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mengatasi batas-batas spesialisasi mereka.
B.Mempelajari Filsafat
Ada tiga macam metode mempelajari filsafat :
1.Metode sistematis
Berarti pelajar menghadapi karya filsafat. Misalnya mula-mula pelajar menghadapi teori pengetahuan yang terdiri atas beberapa cabang filsafat. Setelah itu ia mempelajari teori hakikat yang merupakan cabang lain. Kemudian ia mempelajari teori nilai dan filsafat nilai.
2.Metode Historis
Metode ini digunakan bila para pelajar mempelajari filsafat dengan cara mengikuti sejarahnya, jadi sejarah pemikiran. Ini dilakukan dengan membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukan dalam sejarah. Mulai dari membicarakan biografinya, teori pengetahuannya, teori hakikat maupun sampai teori nilainya.
3.Metode Kritis
Digunakan oleh mereka yang mempelajari filsafat tingkat intensif. Pelajar haruslah sedikit banyak memiliki pengetahuan filsafat. Pelajar filsafat pada tingkat pascasarjana sebaiknya menggunakan metode ini. Kritik itu mungkin dalam bentuk menentang, dapat juga berupa dukungan terhadap ajaran filsafat yang sedang ia pelajari. Ia mengkritik menggunakan pendapatnya sendiri.
C.Manfaat Filsafat
Kegunaan belajar filsafat pada peradaban dunia mutakhir ini adalah karena dunia sedang dilanda krisis peradaban dan ilmu pengetahuan dengan indikator sebagaimana dinyatakan oleh para ahli: (1) The End of Ideology (Daniel Bell 1971); (2) The End of History and The Last Man (F. Fukuyama, 1997); (3) The Death of Education (Neil Postman, 2000); (4) The Death of Science (John Horgan, 1997).
Krisis ilmu pengetahuan ditandai oleh : (1) tidak ada temuan baru setelah temuan C. Darwin dan A. Einstein. Semua temuan dan teori baru merupakan turunan teori-teori Evolusi Darwin dan teori Relativitas Einstein, (2) ilmu dengan teori-teorinya gagal atau tidak mampu menjelaskan gejala alam dan non-alam (gagal menjelaskan krisis-krisis kemanusiaan), (3) terjadi krisis moralitas dan kejahatan dalam dunia ilmu yang terus meluas.
Dengan belajar filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metode-metode ilmu khusus. Jadi, filsafat membantu manusia mendalami pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas dan ruang lingkupnya. Kemampuan itu dipelajari melalui dua jalur, yaitu secara sistematik dan secara historis.
Kegunaan filsafat dapat dibagi dua, yakni kegunaan secara umum dan secara khusus. Kegunaan secara umum dimaksudkan manfaat yang dapat diambil oleh orang yang belajar filsafat dengan mendalam sehingga mampu memecahkan masalah-masalah secara kritis tentang segala sesuatu. Kegunaan secara khusus dimaksudkan untuk memecahkan suatu objek di Indonesia. Jadi, khusus diartikan terikat oleh ruang dan waktu, umum dimaksudkan tidak terikat oleh ruang dan waktu.
Dengan adanya filsafat, manusia dimungkinkan dapat melihat kebenaran tentang sesuatu di antara kebenaran yang lain. Hal ini membuat manusia mencoba mengambil pilihan, di antara alternatif yang ada saat itu, sehingga manusia mampu menghadapi masalah-masalah yang ada dan belajar untuk menjadi bijaksana.
Di samping itu filsafat memberikan petunjuk dengan metode pemikiran reflektif agar kita dapat menyerasikan antara logika, rasa, rasio, pengalaman dan agama untuk pemenuhan kebutuhan hidup yang sejahtera.
Manfaat mempelajari filsafat ada bermacam-macam. Namun sekurang-kurangnya ada 4 macam faedah, yaitu :
1. Agar terlatih berpikir serius
2. Agar mampu memahami filsafat
3. Agar mungkin menjadi filsafat
4. Agar menjadi warga negara yang baik
Berfilsafat ialah berusaha menemukan kebenaran tentang segala sesuatu dengan menggunakan pemikiran secara serius. Plato menghendaki kepala negara seharusnya filosuf. Belajar filsafat merupakan salah satu bentuk latihan untuk memperoleh kemampuan memecahkan masalah secara serius, menemukan akar persoalan yang terdalam, menemukan sebab terakhir satu penampakkan.
Dengan uraian diatas jelaslah bagi kita bahwa secara kongkrit manfaat mempelajari filsafat adalah sebagai berikut.
1.Filsafat menolong mendidik.
2.Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari.
3.Filsafat memberikan pandangan yang luas.
4.Filsafat merupakan latihan untuk berpikir sendiri.
5.Filsafat memberikan dasar,-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, Ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan sebagainya.
D.Kebenaran Filsafat
Dalam bahasan ini, makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna “kebenaran keilmuan (ilmiah)”. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama ataupun langgeng, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan. Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral, tak bermuara, dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran.
Untuk menentukan kepercayaan dari sesuatu yang dianggap benar, para filsuf bersandar kepada 5 cara untuk menguji kebenaran, yaitu koresponden (yakni persamaan dengan fakta), teori koherensi atau konsistensi, teori pragmatis, teori kebenaran performatif, dan teori kebenaran konsensus.
1.Teori Korespondensi (Kebenaran Faktual)
Menurut teori ini, kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelitytoobjectivereality). Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi yang pertimbangan itu berusaha untuk melukiskan, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu. Berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misalnya jika seorang mahasiswa mengatakan “kota Yogyakarta terletak di pulau Jawa” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual, yakni kota Yogyakarta memang benar-benar berada di pulau Jawa. Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa “kota Yogyakarta berada di pulau Sumatra” maka pernnyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek yang sesuai dengan pernyataan terebut. Dalam hal ini maka secara faktual “kota Yogyakarta bukan berada di pulau Sumatra melainkan di pulau Jawa”.
Menurut teori koresponden, ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan, oleh karena atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yag sudah ditetapkan atau diingkari. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan ini benar, jika tidak, maka pertimbangan itu salah (Jujun, 1990:237).
2.Teori Koherensi (Kebenaran Rasio)
Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar (Jujun, 1990:55). Artinya pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika.
Misalnya, bila kita menganggap bahwa “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “si Hasan seorang manusia dan si Hasan pasti akan mati” adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.
Seorang sarjana Barat A.C Ewing (1951:62) menulis tentang teori koherensi, ia mengatakan bahwa koherensi yang sempurna merupakan suatu ideal yang tak dapat dicapai, akan tetapi pendapat-pendapat dapat dipertimbangkan menurut jaraknya dari ideal tersebut. Sebagaimana pendekatan dalam aritmatik, dimana pernyataan-pernyataan terjalin sangat teratur sehingga tiap pernyataan timbul dengan sendirinya dari pernyataan tanpa berkontradiksi dengan pernyataan-pernyataan lainnya. Jika kita menganggap bahwa 2+2=5, maka tanpa melakukan kesalahan lebih lanjut, dapat ditarik kesimpulan yang menyalahi tiap kebenaran aritmatik tentang angka apa saja.
Kelompok idealis, seperti Plato (427-347 S.M.) juga filosof-filosof modern seperti Hegel, F. H. Bradley (1864-1924) dan Royce memperluas prinsip koherensi sehingga meliputi dunia; dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar dan tiap-tiap sistem kebenaran yang parsial bersifat terus menerus dengan keseluruhan realitas dan memperolah arti dari keseluruhan tersebut (Titus, 1987:239). Meskipun demikian perlu lebih dinyatakan dengan referensi kepada konsistensi faktual, yakni persetujuan antara suatu perkembangan dan suatu situasi lingkungan tertentu.
3.Teori Pragmatik
Teori pragmatik dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yangberjudul “How to Make Ideals Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filasafat ini di antaranya adalah William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead (1863-1931) dan C.I. Lewis.
Pragmatisme menantang segala otoritanianisme, intelektualisme dan rasionalisme. Bagi mereka ujian kebenaran adalah manfaat (utility), kemungkinan dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan (Titus, 1987:241), Sehingga dapat dikatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis (Hadiwijono, 1980:130) dalam kehidupan manusia.
Kriteria pragmatisme juga dipergunakan oleh ilmuan dalam menentukan kebenaran ilmiah dalam prespektif waktu. Secara historis pernyataan ilmiah yang sekarang dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi demikian. Dihadapkan dengan masalah seperti ini maka ilmuan bersifat pragmatis selama pernyataan itu fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar, sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian, disebabkan perkembangan ilmu itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru, maka pernyataan itu ditinggalkan (Jujun, 1990:59), demikian seterusnya. Tetapi kriteria kebenaran cenderung menekankan satu atau lebih dati tiga pendekatan (1) yang benar adalah yang memuaskan keinginan kita, (2) yang benar adalah yang dapat dibuktikan dengan eksperimen, (3) yang benar adalah yang membantu dalam perjuangan hidup biologis. Oleh karena teori-teori kebenaran (koresponden, koherensi, dan pragmatisme) itu lebih bersifat saling menyempurnakan daripada saling bertentangan, maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu definisi tentang kebenaran. kebenaran adalah persesuaian yang setia dari pertimbangan dan ide kita kepada fakta pengalaman atau kepada alam seperti adanya. Akan tetapi karena kita dengan situasi yang sebenarnya, maka dapat diujilah pertimbangan tersebut dengan konsistensinnya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang kita anggap sah dan benar, atau kita uji dengan faidahnya dan akibat-akibatnya yang praktis (Titus, 1987:245).
4.Teori Kebenaran Performatif
Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Contoh pertama mengenai penetapan 1 Syawal. Sebagian muslim di Indonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI atau pemerintah, sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu. Contoh kedua adalah pada masa rezim orde lama berkuasa, PKI mendapat tempat dan nama yang baik di masyarakat. Ketika rezim orde baru, PKI adalah partai terlarang dan semua hal yang berhubungan atau memiliki atribut PKI tidak berhak hidup di Indonesia. Contoh lainnya pada masa pertumbuhan ilmu, Copernicus (1473-1543) mengajukan teori heliosentris dan bukan sebaliknya seperti yang difatwakan gereja. Masyarakat menganggap hal yang benar adalah apa-apa yang diputuskan oleh gereja walaupun bertentangan dengan bukti-bukti empiris.
Dalam fase hidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat, dan sebagainya. Kebenaran performatif dapat membawa kepada kehidupan sosial yang rukun, kehidupan beragama yang tertib, adat yang stabil dan sebagainya.
Masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif tidak terbiasa berpikir kritis dan rasional. Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran dari pemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebenaran ini seakan-akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani melanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari kebenaran.
5.Teori Kebenaran Konsensus
Suatu teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau perspektif tertentu dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung paradigma tersebut.
Banyak sejarawan dan filosof sains masa kini menekankan bahwa serangkaian fenomena atau realitas yang dipilih untuk dipelajari oleh kelompok ilmiah tertentu ditentukan oleh pandangan tertentu tentang realitas yang telah diterima secara apriori oleh kelompok tersebut. Pandangan apriori ini disebut paradigma oeh Kuhn dan worldview oleh Sardar. Paradigma ialah apa yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota suatu masyarakat sains atau dengan kata lain masyarakat sains adalah orang-orang yang memiliki suatu paradigma bersama.
Masyarakat sains bisa mencapai konsensus yang kokoh karena adanya paradigma. Sebagai konstelasi komitmen kelompok, paradigma merupakan nilai-nilai bersama yang bisa menjadi determinan penting dari perilaku kelompok meskipun tidak semua anggota kelompok menerapkannya dengan cara yang sama. Paradigma juga menunjukkan keanekaragaman individual dalam penerapan nilai-nilai bersama yang bisa melayani fungsi-fungsi esensial ilmu pengetahuan. Paradigma berfungsi sebagai keputusan yuridiktif yang diterima dalam hukum tak tertulis.
Pengujian suatu paradigma terjadi setelah adanya kegagalan berlarut-larut dalam memecahkan masalah yang menimbulkan krisis. Pengujian ini adalah bagian dari kompetisi di antara dua paradigma yang bersaingan dalam memperebutkan kesetiaan masyarakat sains. Falsifikasi terhadap suatu paradigma akan menyebabkan suatu teori yang telah mapan ditolak karena hasilnya negatif. Teori baru yang memenangkan kompetisi akan mengalami verifikasi. Proses verifikasi-falsifikasi memiliki kebaikan yang sangat mirip dengan kebenaran dan memungkinkan adanya penjelasan tentang kesesuaian atau ketidaksesuaian antara fakta dan teori.
Pengalih kesetiaan dari paradigma lama ke paradigma baru adalah pengalaman konversi yang tidak dapat dipaksakan. Adanya perdebatan antar paradigma bukan mengenai kemampuan relatif suatu paradigma dalam memecahkan masalah, tetapi paradigma mana yang pada masa mendatang dapat menjadi pedoman riset untuk memecahkan berbagai masalah secara tuntas. Adanya jaringan yang kuat dari para ilmuwan sebagai peneliti konseptual, teori, instrumen, dan metodologi merupakan sumber utama yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan pemecahan berbagai masalah.
E.Ilmu Filsafat
Ilmu filsafat adalah ilmu tentang dasar-dasar filsafat yang mencakup sistematika filsafat yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi, objek-objek filsafat, sejarah filsafat dan metode-metode filsafat.
1.Sistematika Filsafat
Sistematika filsafat adalah susunan aturan tentang filsafat yang telah disusun atau ditulis.Filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu: ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ketiga cabang itu sebenarnya merupakan satu kesatuan, yaitu:
a.Ontologi membicarakan hakikat (segala sesuatu), ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu.
b.Epistimologi membicarakan cara memperoleh pengetahuan itu.
c.Aksiologi membicarakan guna pengetahuan itu.
d.Objek Filsafat
Obyek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai obyek, yang dibedakan menjadi dua yaitu: obyek material dan obyek formal.
1)Obyek Material Filsafat
Obyek material yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu atau dapat dikatakan bahwa obyek material adalah hal yang diselidiki, dipandang, atau disorot oleh suatu disiplin ilmu. Obyek material mencakup apa saja, baik hal-hal konkrit atau pun hal yang abstrak.
2)Obyek Formal Filsafat
Obyek formal yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana obyek material itu disorot. Obyek formal suatu ilmu tidak hanya memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang lain. Satu obyek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda. Misalnya obyek materialnya adalah “manusia” dan manusia ini ditinjau dari sudut pandangan yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia diantaranya psikologi, antropologi, sosiologi, dan sebagainya. Obyek formal filsafat yaitu sudut pandangan yang menyeluruh, secara umum, sehingga dapat mencapai hakekat dari pada objek materialnya.
e.Sejarah Filsafat
Sejarah filsafat dapat diperiodisasi ke dalam empat periode (Sudarto. 1996) yaitu:
1)Tahap/masa Yunani kuno (Abad ke-6 S.M sampai akhir abad ke-3 S.M)
2)Tahap/masa Abad Pertengahan (akhir abad ke-3 S.M sampai awal abad ke-15 Masehi)
3)Tahap/masa Modern (akhir abad ke-15 M sampai abad ke-19 Masehi)
4)Tahap/masa dewasa ini/filsafat kontemporer (abad ke-20 Masehi)
Sementara itu K. Bertens dalam bukunya Ringkasan Sejarah Filsafat (1976) menyusun topik-topik pembahasannya sebagi berikut :
1)Masa Purba Yunani
2)Masa Patristik dan Abad pertengahan
3)Masa Modern
Pembagian periodisasi yang nampaknya lebih rinci, dikemukakan oleh Susane K. Langer (Donny GahralAdian, 2002) yang membagi sejarah filsafat ke dalam enam tahapan yaitu :
1)Yunani Kuno (+ 600 SM)
2)Filsuf-filsuf Manusia Yunani
3)Abad Pertengahan (300 SM –1300M)
4)Filsafat Modern (17-19 M)
5)Positivisme (Abad 20 M)
6)Alam Simbolis
Kemudian Gahral Adian menambahkan kepada enam tahapan tersebut dengan satu tahapan lagi yaitu Post Modernisme. Meskipun terdapat perbedaan dalam periodisasi sejarah filsafat, namun semua itu nampaknya lebih menunjukan perincian dengan menggunakan sifat pemikiran serta pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat.
f.Metode Filsafat
Ada dua macam dalam metode filsafat yang paling dasar, yakni Metode Umum dan Metode Khusus.
1)Metode Umum
Ada dua pasang metode berpikir : Induksi-Deduksi dan Analisis-Sintesis.
a)Metode Induksi
Adalah suatu cara atau jalan yang dipakai untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dengan bertitik tolak dari pengamatan atas hal-hal atau masalah yang bersifat khusus, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum.
b)Metode Deduksi
Adalah suatu cara atau jalan yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah dengan bertitik tolak dari pengamatan atas hal-hal atas masalah yang bersifat umum, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat khusus.
c)Metode Analisis
Adalah jalan yang dipakai untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan mengadakan pemerincian terhadap obyek yang diteliti.
d)Metode Sintesis
Adalah jalan yang dipakai untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan cara mengumpulkan atau menggabungkan. Metode ini pula berarti cara penanganan terhadap obyek ilmiah tertentu dengan cara menggabungkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lain, yang pada akhirnya dapat diperoleh pengetahuan yang sifatnya baru.
2) Metode Khusus
Metode khusus ialah metode khas tiap-tiap ilmu atau kelompok ilmu. Pada dasarnya setiap ilmu atau kelompok ilmu memiliki metode khasnya masing-masing. Metode ini berkenaan dengan “operasi” atau kegiatan “riset” dalam ilmu bersangkutan.
Ada banyak metode khusus diantaranya adalah :
a)Metode Kritis: Socrates, Plato
Bersifat analisis istilah dan pendapat. Merupakan hermeneutika, yang menjelaskan keyakinan, dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak, akhirnya ditemukan hakikat.
b)Metode intuitif: Plotinus, Bergson
Dengan jalan instrospeksi intuitif, dan dengan pemakaian symbol-simbol diusahakan pembersihan intelektual (bersama dengan persucian moral) sehingga tercapai suatu penerangan pikiran. Bergson: dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
c)Metode skolastik: Aristoteles, Thomas Aquinas, Filsafat Abad Pertengahan
Bersifat sintetis-deduktif. Dengan bertitik tolak dari definisi-definisi atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya, ditarik kesimpulan-kesimpulan.
d)Metode Geometris: Rene Descartes dan Pengikutnya
Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat-hakikat “sederhana” (ide terang dan berbeda dari yang lain), dan hakikat hakikat itu dideduksikan secara matematis segala pengertian lainnya.
e)Metode Empiris: Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume
Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar; maka semua pengertian (ide-ide) dalam introspeksi dibandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian disusun bersama secara geometris.
f)Metode Transendental: Immanuel Kant, Neo-Skolastik
Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.
g)Metode Fenomenologis: Husserl, Eksistensialisme
Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atas fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.
h)Metode Dialektis: Hegel, Marx
Dengan jalan mengikuti dinamik pemikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antitesis, sintesis dicapai hakikat kenyataan.
i)Metode Neo-positivistis
Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlakunya pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).
j)Metode Analitika Bahasa: Wittgenstein
Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan ucapan filosofi.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan menggunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat bukan mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena tetapi yang dicari adalah hakikat dari suatu fenomena.
Terdapat tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat antara lain didorong oleh rasa keheranan, kesangsian, dan kesadaran akan keterbatasan.
Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan. Sebelum, dalam pengertian bahwa semua ilmu khusus telah mulai sebagai bagian dari filsafat yang kemudian menjadi dewasa, seperti masih kelihatan pada Aristoteles. Sedangkan filsafat datang sesudahnya, dalam pengertian bahwa semua ilmu menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mengatasi batas-batas spesialisasi mereka.
Ada tiga macam metode mempelajari filsafat metode sistematis, metode historis, metode kritis. Sedangkan manfaat mempelajari filsafat adalah sebagai berikut.
1.Filsafat menolong mendidik.
2.Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari.
3.Filsafat memberikan pandangan yang luas.
4.Filsafat merupakan latihan untuk berpikir sendiri.
5.Filsafat memberikan dasar,-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, Ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan sebagainya.
Untuk menentukan kepercayaan dari sesuatu yang dianggap benar, para filsuf bersandar kepada 5 cara untuk menguji kebenaran, yaitu koresponden (yakni persamaan dengan fakta), teori koherensi atau konsistensi, teori pragmatis, teori kebenaran performatif, dan teori kebenaran konsensus.
Ilmu filsafat adalah ilmu tentang dasar-dasar filsafat yang mencakup sistematika filsafat yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi, objek-objek filsafat, sejarah filsafat dan metode-metode filsafat.
B.Saran
Dalam memelajari filsafat pendidikan terlebih dahulu harus memahami apa itu hakikat dari filsafat. Sehingga kajian ini sangat penting bagi calon pendidik untuk memelajari dasar atau hakikat dari filsafat pendidikan.
DAFTAR RUJUKAN
Surajiyo. 2012. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Adib, Mohammad. 2010. Filsafat Ilmu (Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kusuma, Bramanti. 2015. Ilmu Filsafat, Filsafat Ilmu, dan Filsafat Ilmu Pengetahuan; Bedanya Dimana, (Online), (http://www.kompasiana.com/bramkusuma/ilmu-filsafat-filsafat-ilmu-dan-filsafat-ilmu-pengetahuan-bedanya-dimana). Diakses tanggal 31 Januari 2017.
Nsimeon. 2014. Sejarah singkat filsafat. (Online), http://nsimeon.blogspot.co.id/2014/01/sejarah-singkat-filsafat.html. Diakses tanggal 31 Januari 2017.
Burhanuddin, Afid. 2013. Epistimologi, Ontologi, Aksiologi, Pengetahuan Filsafat. (Online), https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/05/21/epistimologi-ontologi-aksiologi-pengetahuan-filsafat-2/. Diakses tanggal 31 Januari 2017.
Utami, Alvianica Nanda. 2014. Kebenaran dalam Filsafat. (Online), http://untukfilsafat-alvianica.blogspot.co.id/2014/12/kebenaran-dalam-perspektif-filsafat.html. Diakses tanggal 31 Januari 2017.
Anonim. 2012. Manfaat Belajar Filsafat. (Online). https://ilmufilsafat.wordpress.com/category/manfaat-belajar-filsafat/lilymarta. Diakses tanggal 31 Januari 2017.
Anonim. 2012. Cara Mempelajari Filsafat. (Online). https://philoshopyworld.wordpress.com/2012/11/08/cara-mempelajari-filsafat/. Diakses tanggal 31 Januari 2017.